Mitos tentang Yoghurt

2 12 2009

Sebelum membaca The Miracle of Enzyme, sama seperti kebanyakan orang, aku juga percaya bahwa yoghurt sangat berkhasiat untuk membantu pencernaan. Sebagai orang yang sering sembelit, aku juga berusaha untuk sesering mungkin mengkonsumsi yoghurt. Anak sulungku Vima juga kubiasakan minum yoghurt setiap hari. Maka, setiap kali belanja mingguan di hari Jumat, Yak***t (minuman probiotik yang mengklaim mengandung milyaran bakteri baik untuk membantu pencernaan) dan yoghurt selalu ada di daftar belanjaku.

Saat coba menjelajah di search engine dengan kata kunci ‘manfaat yoghurt’, aku menemukan banyak lagi klaim heboh yang dibuat oleh berbagai situs. Antara lain: mencegah penyakit kanker, memperpanjang umur, mem-‘beres’-kan berbagai masalah perut, menyembuhkan luka lambung dan usus, menurunkan kadar kolesterol, menguatkan tulang, dan memperkuat sistem ketahanan tubuh.

Dokter Hiromi Shinya mempertanyakan semua klaim manfaat yoghurt ini. Sesuai dengan filosofi Diet dan Gaya Hidup Keajaiban Enzim, dalam urusan kesehatan kita jangan cuma melihat manfaat suatu makanan/minuman secara parsial-spesifik, tapi dampaknya secara menyeluruh dan jangka panjang bagi kesehatan kita. Bukti yang dijadikan dasar Dokter Shinya untuk bertanya adalah pengalamannya sendiri. Dalam konteks klinis, dari semua pasien yang ia tangani selama berpuluh-puluh tahun, mereka yang mengkonsumsi yoghurt setiap hari ternyata karakteristik lambung dan ususnya tidak pernah baik.

Mengapa bisa begitu?

Pertama-tama, Dokter Shinya meragukan mitos tentang laktobasilus. Dasar klaim manfaat yoghurt adalah karena minuman/makanan ini mengandung milyaran bakteri laktobasilus yang tergolong bakteri baik bagi pencernaan. Namun, kata Dokter Shinya, tanpa harus ditambahi dari luar, dalam usus manusia sendiri sudah terdapat banyak laktobasilus. Justru ketika ada bakteri datang dari luar, tubuh manusia punya sistem pertahanan alami yang akan menyerang dan menghancurkan bakteri-bakteri asing itu. Garis pertahanan terdepan adalah asam lambung. Saat laktobasilus dari yoghurt memasuki lambung, sebagian besar akan dimatikan oleh asam lambung. Karena itu, baru-baru ini dilakukan perbaikan formula iklan yoghurt menjadi “laktobasilus yang berhasil mencapai usus Anda”.

Pertanyaan berikutnya, kalaupun laktobasilus dari yoghurt berhasil mencapai usus, dapatkah mereka bekerja sama dengan bakteri pemukim usus yang asli? Dari bukti klinis yang dilihatnya dari para pasien, Dokter Shinya menduga bahwa kalaupun laktobasilus dalam yoghurt dapat mencapai usus hidup-hidup, mereka bukannya membuat usus bekerja lebih baik, malah hanya mengacaukan flora usus.

Apa yang selama ini disangka sebagai efek anti-konstipasi (mencegah sembelit) dari yoghurt, sesungguhnya adalah kasus diare ringan. Sebagai produk turunan susu sapi, yoghurt mengandung banyak laktosa. Untuk mencerna laktosa, kita butuh enzim laktase. Enzim ini banyak dimiliki bayi, tapi akan terus berkurang seiring bertambahnya usia kita. Kesulitan mencerna yoghurt menghasilkan semacam diare ringan. Ekskresi kotoran stagnan yang selama ini terakumulasi di dalam usus besar secara keliru kita anggap sebagai pengobatan terhadap konstipasi.

Dokter Shinya menegaskan, “Kondisi usus Anda akan memburuk jika Anda mengkonsumsi yoghurt setiap hari. Saya dapat mengatakan hal ini dengan yakin berdasarkan hasil pengamatan klinis saya. Jika Anda mengkonsumsi yoghurt setiap hari, bau kotoran dan gas Anda akan menjadi semakin tajam. Inilah suatu indikasi bahwa lingkungan usus Anda memburuk. Alasan timbulnya bau itu adalah karena racun tengah diproduksi di dalam usus besar. Oleh karena itu, walaupun banyak orang membicarakan efek-efek kesehatan yoghurt secara umum, dan perusahaan-perusahaan yoghurt dengan senang hati menggembar-gemborkan produk mereka, dalam kenyataannya, banyak hal menyangkut yoghurt yang tidak baik bagi tubuh Anda.”








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.