Miracle of Enzyme Day #0

29 11 2009

Jumat, 26 November 2009

Begitu selesai membaca buku The Miracle of Enzyme, aku langsung memutuskan untuk mempraktekkannya. Saat akan memulai yang sempat terlintas di benakku adalah omongan yang biasa dilontarkan ayahku: “Hidup nggak usah dibuat repot, makan yang wajar, yang penting dinikmati!” Aku jadi introspeksi, mengapa aku ingin mempraktekkan ini, model diet yang relatif ekstrem ini? Ingin hidup panjang dan sehat? Hmmm … ada juga motif itu. Siapa sih yang tidak ingin hidup panjang dan sehat? Walaupun, menurutku, aspek yang kedua (sehat) lebih penting ketimbang yang pertama. Aku sendiri tidak masalah apakah umurku panjang atau pendek, asalkan selama aku hidup tubuh dan pikiranku sehat dan penuh vitalitas untuk melakukan apa yang aku mau lakukan.

Tapi rasanya bukan itu faktor utama yang menggerakkan aku.

Keputusan cepat ini bagiku lebih seperti spiritual instinct. It just feels right. Sama seperti a-ha moments lain, aku merasa ‘klik’ dengan semua yang disampaikan dokter Shinya. Ia menyampaikan KEBENARAN, kebenaran yang ditinjau secara holistik. Ia menyusun teorinya berdasarkan filosofi Timur tentang harmoni sekaligus sains dari Barat, dan – yang terpenting – ia menjalankannya dan merasakan hasilnya. Diet dan Gaya Hidup Keajaiban Enzim adalah ajaran yang holistik yang sudah terbukti berbuah positif dalam praktek, baik pada diri dokter Shinya maupun ratusan ribu pasiennya. Semua bukti ini memuaskan filosofiku yang eksistensialis-pragmatis. Apa yang dalam praktek bisa menghasilkan perbedaan positif dan harmoni dalam hidup adalah semua kriteria yang kuinginkan dari sebuah ajaran. Boleh kubilang, akhirnya aku mendapatkan filosofi dan teori kesehatan yang menampung semua idealismeku, sekaligus memberikan bukti yang membenarkannya. Dan kalau Kebenaran sudah memanggil, tak ada respons lain yang bisa kuberikan selain … mengikutinya.

Jadi, without skipping a heartbeat, hatiku langsung mantap menjadi seorang enzymer. Eksperimen ini akan kujalankan setidaknya, seperti anjuran dokter Shinya, selama 4 bulan. Hari sudah menjelang siang, sarapan sudah lewat, maka aku mulai ‘pemanasan’ dengan makan siang.

Dimulai dengan minum banyak air, sekitar 3 gelas @250ml, secara bertahap mulai sekitar pukul 11 WIB. Lantas setengah jam kemudian menyantap dua butir apel. Kunyah baik-baik, 30-50 kali kunyahan per suap, sampai apel itu jadi bubur di dalam mulutku. Jam setengah satu, aku makan siang. Nasi dari beras pecah kulit yang dicampur beras merah dengan lauk biasa, hanya saja tanpa gorengan.  Kunyah lagi baik-baik tiap suapnya.

Aku tidak minum lagi sampai pukul empat sore. Kembali sekitar 3 gelas air kuminum secara bertahap. Sore ini aku punya pisang, kumakan satu setengah biji (yang setengah lagi dimakan Vima). Aku baru makan malam pukul 19, sepulang dari ibadah Buka Sabat. Nasi beras pecah kulit campur beras merah dengan lauk biasa, tanpa gorengan. Kunyah-kunyah-kunyah dengan baik.

Malam ini aku ambil waktu khusus untuk menerangkan Diet dan Gaya Hidup Keajaiban Enzim kepada mama mertuaku. Selama ini, beliaulah yang menjadi ‘kepala dapur’, menyiapkan menu sehari-hari bagi keluarga kami. Kupikir penting mendapatkan restunya agar aku bisa menjalani perubahan pola hidup ini dengan nyaman. Bagaimanapun kami tinggal serumah. Apalagi, aku berencana akan sedikit-banyak mengadaptasi model diet ini untuk anak-anakku mulai sekarang. Aku jelaskan padanya perubahan apa yang akan kujalani: tidak mengkonsumsi lagi daging ayam atau sapi, minyak goreng, mentega, susu sapi dan produk-produk susu lainnya, juga bahan-bahan tambahan makanan (vetsin, cuka, pewarna, kecap, dan lain sebagainya). Banyak pertanyaan dan kerutan kening, beliau tidak sepenuhnya bisa menerima, tapi syukurlah lepas dari belum terjadinya a-ha moment, mama mertuaku memberiku kebebasan untuk bereksperimen dan mau bekerja sama.

Setelah mama mertua, aku juga memberitahukan perubahan dietku pada ibuku sendiri dan keluarga besarku. Mereka menyambut positif, bahkan kakak iparku juga berniat ikut menjalani diet ini. Sehabis melahirkan, kami berdua sama-sama jadi gendut, maka pernyataan dokter Shinya bahwa diet ini akan membuat berat badan pelakunya jadi ideal (yang kegemukan akan mengurus, yang terlalu kurus akan menggemuk) sungguh-sungguh terdengar menggiurkan ;-p

Malam hari aku berangkat tidur pukul sebelas dengan lambung betul-betul terasa kosong. Tidak ada makanan atau minuman lagi yang kumasukkan sejak makan malam tadi. Hmmm … sensasinya seperti sedang puasa saja. Aku tak sabar menunggu bangun lagi esok pagi untuk memasuki hari pertama full menjalani Diet dan Gaya Hidup ini.


Actions

Information

One response

4 03 2010
Ferry

Trima kasih ya Bu atas informasi dan pengalaman yg ditulis di blog ini. saya baru selesai membaca buku dr. Hoiromi ini dan skr saya suruh istriku utk membacanya, (mudah2an kita ber2 jg bs KLIK).
Saya pribadi mau mencoba apa yg disarankan dibukunya… krn Ibu sudah memulai duluan, kira2 bs ga membantu saya dalam menjalankan diet enzim ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: