Stop Minum Susu Sapi Komersial

30 11 2009

Sebagai aktivis kampanye back-to-breastfeeding (anjuran WHO untuk memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan dan terus menyusui sampai setidaknya anak berusia 2 tahun), aku tak pernah lagi memaksa anak sulungku minum susu sapi seperti dulu. Apalagi, sedikit banyak aku sudah pernah dengar kabar kontroversial yang bilang “minum susu sapi ternyata tidak bagus bagi kesehatan”. Hanya kalau dia minta, aku akan memberinya susu UHT, entah yang plain, rasa coklat atau stroberi. Tapi dasar anakku memang menuruni seleraku, dia sangat suka rasa susu. Jadi, dia sering sekali minta dibelikan susu UHT atau produk-produk susu, seperti keju dan yoghurt. Kupikir, walaupun bukan makanan terbaik, toh susu tetap ada gizinya.

Sekarang, setelah membaca The Miracle of Enzyme, persepsiku tentang susu menjadi final. Ternyata susu sapi, apalagi susu sapi komersial, memang betul-betul tidak bagus untuk dikonsumsi manusia! Mengapa? Aku coba tata kembali argumen Dokter Shinya dalam bukunya secara runtut di bawah ini.

Susu Sapi Untuk Anak Sapi

Nutrisi dalam susu sapi memang didesain untuk kebutuhan anak sapi. Di dunia alami, setiap bayi spesies mamalia menyusu kepada induknya sendiri, minum susu spesiesnya sendiri, karena susu itu pasti cocok dengan kebutuhan tumbuh kembangnya. Inilah cara kerja alam. Hanya manusia yang dengan sengaja mengambil susu dari spesies lain, mengolahnya, dan meminumnya. Padahal, yang penting bagi pertumbuhan anak sapi belum tentu berguna bagi manusia. Ini bertentangan dengan hukum alam.

Secara umum, jenis nutrisi susu sapi dengan ASI sepertinya mirip. Ada protein, lemak, laktosa, zat besi, kalsium, fosfor, natrium, kalium, dan vitamin. Namun, kualitas dan jumlah nutrisi keduanya sangat berbeda. Misalnya saja, kandungan laktoferinnya. Zat antioksidan ini berguna untuk memperkuat fungsi sistem kekebalan tubuh, terdapat baik dalam susu sapi maupun ASI. Namun, rasio laktoferin dalam ASI adalah 0,15% sementara laktoferin susu sapi hanya 0,01%. Contoh lain, kandungan laktosa dalam ASI sekitar 7%, sementara dalam susu sapi hanya 4,5%. Tampaknya bayi-bayi yang baru lahir dari spesies yang berbeda membutuhkan jumlah dan rasio nutrisi yang berbeda pula.

Susu Sapi Sulit Dicerna Manusia

Karena bentuknya cair, orang-orang sering meminum susu bagaikan air saat mereka haus. Ini sebuah kesalahan besar. Komponen protein utama (sekitar 80%) susu sapi bernama kasein. Protein ini langsung menggumpal menjadi satu begitu memasuki lambung manusia, jadi sangat sulit dicerna oleh sistem pencernaan kita.

Kandungan susu sapi akan semakin sulit dicerna oleh manusia yang sudah dewasa. Memang di alam bebas, hewan yang minum susu hanyalah bayi yang baru lahir. Bahkan, ASI dari spesies manusia pun sebetulnya tidak didesain untuk konsumsi manusia dewasa. Laktoferin, contohnya. Zat ini akan terurai begitu terkena asam lambung. Bayi dapat mengkonsumsi banyak nutrisi laktoferin karena lambungnya belum sempurna dan produksi asam lambungnya baru sedikit.

Contoh lain adalah laktosa, zat gula yang terdapat dalam susu mamalia. Untuk mencerna laktosa, kita butuh enzim laktase. Enzim ini banyak dimiliki oleh tubuh bayi, namun jumlah enzim ini akan berkurang seiring usia. Jika setelah minum susu kita merasakan gejala perut bergemuruh atau diare, itu adalah akibat ketidakmampuan tubuh kita mencerna laktosa. Menghilangnya enzim laktosa saat kita beranjak dewasa merupakan cara alam untuk mengatakan bahwa susu bukanlah untuk diminum orang dewasa.

Susu Sapi Komersial Buruk Bagi Tubuh

Susu sapi dalam bentuknya yang segar saja sudah sulit dicerna manusia, apalagi setelah menjadi susu sapi komersial. Proses pengolahan susu sapi komersial membuat susu sapi bukan hanya sulit dicerna, tapi bahkan berbahaya dan berdampak buruk bagi tubuh.

Pertama, susu sapi komersial mengalami proses homogenisasi. Jika susu sapi segar dibiarkan, lemaknya lama-kelamaan akan mengapung di permukaan. Di pabrik, lemak ini diaduk dengan mesin sampai kadarnya merata di seluruh susu, tidak akan terpisah lagi seperti saat masih segar. Dampak proses ini adalah terjadi perikatan lemak susu dengan oksigen menjadi lemak teroksidasi (terhidrogenisasi). Jika diminum, susu homogen ini mengacaukan lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat dan merusak keseimbangan flora usus kita. Akibatnya, racun-racun seperti radikal bebas, hidrogen sulfida, dan amonia terproduksi.

Kedua, setelah dihomogenisasi, susu sapi komersial masih melewati proses pasteurisasi. Proses ini tujuannya menekan perkembangbiakan berbagai kuman dan bakteri. Metode yang paling banyak digunakan adalah pasteurisasi suhu tinggi waktu singkat (HTST: lebih dari 72◦C selama 15 detik lebih) atau suhu sangat tinggi waktu singkat (UHT: lebih dari 120-130◦C selama 2 detik atau sampai dengan 150◦C selama 1 detik). Enzim-enzim yang berharga dalam susu mulai terurai pada suhu 48◦C dan pada suhu 115◦C sudah hancur seluruhnya. Oleh karena itu, terlepas dari lama waktu pemrosesan, pada suhu pasteurisasi mencapai 130◦C, enzim telah hampir seluruhnya rusak. Susu itu menjadi makanan yang mati, tidak mempunyai daya hidup lagi. Selain itu, efek samping pasteurisasi suhu tinggi adalah meningkatknya kadar lemak teroksidasi serta berubahnya kualitas protein susu. Laktoferin, yang sensitif terhadap panas, juga rusak. Itu sebabnya Dokter Shinya menegaskan: “Susu sapi yang dijual di supermarket seluruh dunia tidak baik bagi Anda.”

Minum Susu Terlalu Banyak Menyebabkan Osteoporosis

Anggapan bahwa minum susu dapat mencegah osteoporosis adalah suatu miskonsepsi alias mitos! Kadar kalsium dalam darah manusia biasanya terpatok pada 9-10 mg. Saat minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat. Tubuh berusaha mengembalikan keadaan abnormal ini menjadi normal kembali dengan membuang kalsium dari ginjal melalui urine. Dengan kata lain, kalau kita minum susu dengan harapan mendapatkan kalsium, hasilnya justru berkebalikan: jumlah total kalsium dalam tubuh kita justru menurun. Tak heran, dari empat negara peminum susu terbesar (Amerika-Swedia-Denmark-Finlandia), ditemukan banyak sekali kasus retak tulang panggul dan osteoporosis. Sebaliknya, hampir tidak ada kasus osteoporosis di Jepang semasa rakyat Jepang tidak minum susu. Konsumsi kalsium yang mereka peroleh dari ikan-ikan kecil dan rumput laut yang walaupun tidak cepat terserap dalam darah ternyata dalam jangka panjang justru berdampak baik.

Risiko-risiko Lain Minum Susu Sapi

Dokter Shinya sendiri menyaksikan dampak buruk konsumsi susu sapi dan produk-produk susu pada anak-anaknya semasa mereka masih kecil. Yang sulung menderita dermatitis atopik (ruam kulit parah), yang kecil mengalami gejala-gejala awal kolitis ulserativa (radang parah dengan tukak di dalam usus besar) seperti diare dan kotoran berdarah. Namun, setelah konsumsi dihentikan, semua penyakit itu menghilang dengan sendirinya.

Secara medis, sudah banyak laporan yang menguatkan pendapat Dokter Shinya bahwa konsumsi susu sapi dan produk-produk susu bisa memicu berbagai jenis alergi dan penyakit gaya hidup, termasuk diabetes, pada anak. Jika wanita hamil minum susu, anak-anak yang ia lahirkan juga lebih mudah terjangkit alergi-alergi itu.

Stop Minum Susu Sapi Komersial!

Tidak ada lagi alasan yang cukup kuat bagiku untuk mempertahankan konsumsi susu sapi di rumah. Begitu bertekad menjalani Diet dan Gaya Hidup Keajaiban Enzim, dalam hati aku juga ingin anak-anakku sejak dini memiliki pola hidup yang sehat ini. Langkah pertama adalah menyingkirkan susu sapi kotakan yang masih ada di kulkas. Susu kotak tadinya kusiapkan untuk diminum sewaktu-waktu Vima merasa lapar di antara jam makan atau saat bepergian. Mulai saat ini, kalau sewaktu-waktu Vima lapar atau ingin mengudap, akan kuusahakan selalu ada buah segar di kulkas sebagai ganti susu kotaknya. Oh ya, aku juga tidak akan pernah lagi membelikan susu sapi komersial untuk anak-anakku, termasuk produk-produk turunannya seperti keju, es krimyoghurt, mentega, dan sebagainya.


Actions

Information

One response

13 12 2009
erma luftia

Haloo mba Ellen Kristi, salam kenal dari saya ya…Saya tertarik dengan tulisan mba Ellen di atas.Topik yang mba Ellen bahas benar-benar informasi baru buat saya. Sama dengan ibu-ibu rumah tangga lainnya, saya percaya susu dapat membantu pertumbuhan anak-anak terutama anak balita. Tapi setelah membaca tulisan mba di atas ternyata persepsi saya selama ini salah besar…saya tidak boleh hanya mengandalkan susu sapi komersial untuk tumbuh kembang anak saya …Kebetulan saya sedang mencari artikel yang berhubungan dengan susu formula dan ASI. Mohon izin dari mba Ellen agar saya dapat mereview tulisan mba Ellen diatas, untuk saya sharing di beritaterkinionline…Mohon jawabannya…saya tunggu di email saya..eluftia@yahoo.co.id. Terimakasih banyak sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: