Garam Meja vs. Garam Laut

4 12 2009

Aku tahu teori bahwa garam penting bagi tubuh. Contoh gampangnya, kalau kita diare, kita musti banyak minum oralit, yakni cairan yang mengandung garam agar tubuh tidak dehidrasi. Maka, menarik sekali waktu kubaca anjuran Dokter Shinya agar kita menghindari atau membatasi konsumsi garam meja. Sebagai pengganti, ia menyarankan kita memakai “garam laut yang banyak mengandung mineral”. Seumur-umur, baru saat membaca buku The Miracle of Enzyme inilah aku pernah mendengar istilah garam laut. Setahuku, semua garam ya asalnya dari laut. Jadi, apa yang membedakan garam meja dengan garam laut?

Dari hasil jelajah sana-sini, aku menemukan beberapa informasi menarik tentang garam meja vs. garam laut:

  • Kandungan utama garam meja dan garam laut sama-sama sodium dan klorida, perbedaan keduanya terletak pada rasa, tekstur, dan pemrosesan.
  • Garam laut dihasilkan dari penguapan air laut, tanpa proses pemurnian lebih lanjut dan dan tidak diberi bahan tambahan lain. Hasilnya, garam laut masih mengandung mineral-mineral lain yang terkandung di dalam air laut selain sodium dan klorida. (Kabarnya ada sekitar 84 elemen mineral yang berguna untuk tubuh dalam air laut tersebut.) Inilah yang menyebabkan garam laut berbeda-beda rasa, tekstur, dan warnanya, tergantung laut asal airnya.
  • Garam meja adalah garam yang biasa dijual di toko-toko dalam kemasan. Kandungannya melulu sodium klorida sebagai hasil pemurnian terhadap garam laut atau tambang garam bawah tanah. Selain proses pemurnian dengan panas tinggi yang mengubah struktur kimiawi garam (demi menghilangkan mineral-mineral selain sodium dan klorida), dalam garam meja juga telah ditambahkan zat kimiawi untuk mencegah garam menggumpal. Kelebihan garam meja, biasanya garam ini telah ditambahi yodium dalam jumlah yang lebih signifikan ketimbang garam laut (garam laut juga mengandung yodium, tapi sedikit sekali).
  • Para raw foodist menggunakan garam laut dan bukannya garam meja karena memang garam laut lebih alamiah ketimbang garam meja.

Setelah baca berbagai sumber informasi, kupikir bagus juga mengganti garam mejaku dengan garam laut. Aku sendiri tidak akan terlalu kaku menolak garam meja, toh secara umum isinya juga sama-sama sodium dan klorida, serta ada penguat yodiumnya. Tapi kalau bisa aku mau pakai garam laut saja yang kata Dokter Shinya lebih memenuhi kebutuhan mineral tubuh kita.

Sekarang pertanyaannya: Di mana ya mendapatkannya? Rupanya justru ART-ku lebih tahu. Dia bilang kita bisa beli garam laut di pasar. “Butirannya besar-besar, biasanya buat menaburi sekeliling rumah supaya tidak ada ular masuk,” katanya. Agak kaget dia waktu kubilang aku akan pakai itu untuk makan. “Ih, kan kotor!” Agak surut juga niatku memakai garam laut saat dengar komentar seperti itu. Tapi ketika akhirnya pagi ini dia membawa pulang 1 kg garam laut dari pasar (harganya Rp2.000,-), kuamat-amati ternyata tidak sekotor yang kubayangkan. Putih juga, hanya betul butirannya besar-besar. Perbedaan lain, setelah kumakan, rasanya tidak seasin garam meja yang biasa kupakai.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: