Keseharianku Sebagai Enzymer

4 12 2009

Selama masa percobaan ini, aku berusaha menjalani rutinitas keseharian semirip mungkin dengan diet dan gaya hidup Dokter Hiromi Shinya seperti dituliskan dalam bukunya halaman 200-204. Tentu saja tidak bisa persis plek, tapi pola dasarnya kira-kira sama.

Pagi Hari

Setiap harinya aku bangun sekitar pukul empat pagi. Setelah melakukan peregangan mulai dari otot kepala sampai otot kaki, aku minum 1-2 gelas setiap 15-30 menit sampai pukul lima. Jadi, total aku bisa minum 4-6 gelas air @200-250 ml. Setelah minum gelas yang kedua, biasanya aku sudah terasa ingin BAB. Pukul setengah enam aku makan buah-buahan segar yang tersedia di rumah hari itu. Seperti kata Dokter Shinya, buah-buahan segar lebih baik dikonsumsi sebelum makan supaya fungsi penceranan menjadi lebih baik dan kadar gula darah meningkat sehingga mencegah kita terlalu banyak makan.

Setelah anak sulungku bangun dan menyelesaikan sesi minum paginya, sekitar pukul enam aku jogging 20 menit plus latihan leg-raise dan sit-up. Seusai olahraga, aku sarapan. Makanan pokok yang kusantap adalah beras pecah kulit campur beras merah yang kucampur kacang merah, kacang tolo, kacang tanah, wijen (cat: aku berencana menambah variasi biji-bijian ke depannya). Sebagai makanan pendamping, ada sayuran segar ataupun kukus, tahu-tempe, telur rebus separuh atau ikan kukus/panggang dengan sedikit bumbu.

Siang Hari

Sekitar jam 10, aku mulai minum lagi 1-2 gelas per 15-30 menit. Dari gelas terakhir, setengah jam kemudian saya makan buah-buahan segar. Menu makan siang komposisinya seperti juga sarapan 50% beras-berasan dan biji-bijian, 30% sayur-sayuran, 5-10% buah, 10-15% protein hewani (telur/ikan) atau nabati (tempe/tahu). Tak lama setelah makan siang, biasanya aku menemani tidur kedua anakku dan aku sekalian tidur siang juga sampai … sebangunnya😉

Malam Hari

Mulai sekitar pukul empat sore, aku minum lagi 1-2 gelas air per 15-30 menit. Setengah jam dari gelas terakhir, aku makan buah-buahan segar. Lantas, 30-40 menit kemudian (biasanya sekitar setengah enam sore), aku makan malam dengan menu yang tidak banyak berbeda dari sarapan dan makan siang.

Catatan-catatan

  • Aku membiasakan tidak minum di saat makan. Dokter Shinya memang tidak tegas dalam hal ini. Di satu sisi dia bilang tidak apa-apa minum setelah makan, asal bukan kopi atau teh hijau (hlm. 203). Di sisi yang lain, dia bilang air yang masuk saat kita makan akan mengencerkan asam lambung sehingga terlalu banyak air akan membebani tugas lambung untuk mencerna makanan yang masuk. Aku merasa penjelasan terakhir lebih masuk akal, jadi aku berusaha tidak minum selama makan dan tidak minum lagi sampai jam minum berikutnya. Kalau sangat haus, ya minum sedikit saja, sekedar menghilangkan rasa haus. Selain itu, aku mencatat saran Dokter Shinya agar tidak ngemil (mengudap) di antara jam makan, kecuali buah yang cepat dicerna.
  • Setiap suapan harus dikunyah dengan baik, setidaknya 30-50 kali per suap.  Di hari pertama, aku menghitungi kunyahan itu, tapi setelah terbiasa aku lebih berpatok pada tekstur makanan setelah dikunyah. Kalau masih belum lembut, aku tetap mengunyah meski sudah lebih dari 30 kali. 
  • Dokter Shinya menyarankan makan dan minum terakhir 4-5 jam sebelum tidur. Ini belum bisa kujalankan. Soalnya, sekitar pukul setengah sembilan biasanya anak-anakku sudah minta dikeloni tidur dan aku biasanya selalu ketiduran sampai tengah malam atau dini hari. Paling lama, jarak antara makan malam dan waktu tidurku adalah 2-3 jam.

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: