Miracle of Enzyme Day #4-7

4 12 2009

Ternyata repot juga mencatati rekam jejak makanan pagi-siang-malam setiap hari. Catatanku yang terakhir adalah sarapan di hari ke-4, setelah itu selalu tersela oleh berbagai kegiatan lain dan waktu mau mencatat sudah lupa apa yang tadi aku makan. Jadi, mulai posting ini, aku akan menayangkan hal-hal menarik yang terjadi selama eksperimen dietku saja. Toh, pola makannya tidak banyak berubah.

Hal-hal Yang Baru

  • Aku menambahkan beberapa jenis sayur baru sebagai variasi, yakni jipan, jagung muda, dan kecambah (taoge). Aku yakin ke depan masih akan lebih banyak variasi sayur lagi yang bisa kumakan.
  • Melulu makan sayur segar atau kukus sebagai lauk memang lama-lama membosankan. Kondisi ini harus kuakali dengan membuat sambal dabu-dabu (irisan tomat segar, bawang merah, dan cabai yang disiram jus jeruk nipis dengan sedikit garam) dan sambal kacang sebagai teman makan. Selain itu, aku mencari-cari resep di internet yang bisa kuterapkan untuk diet ini. Sumber resep yang paling cocok memang dari komunitas raw foodist (penganut diet yang hanya memakan makanan segar/tidak dipanaskan). Salad Pad-Thai, misalnya, sangat pas buat seleraku. Berikutnya, aku ingin mencoba membuat spaghetti dengan topping saos tomat segar. Tunggu saja tanggal mainnya🙂
  • Akhirnya di hari ke-7 ini aku mendapatkan garam laut! Jadi, semakin mantap dan percaya diri dengan asupan mineralku …

Berbagai Perubahan yang Aku Rasakan

  • Sampai hari ke-7, aku terus lancar BAB. Good news! Bukan hanya bisa ke belakang setiap hari, kotoran pun tidak pernah keras lagi seperti dulu. Baunya pun tak setajam dulu, agak mirip bau kotoran kuda, kambing, atau hewan herbivora gitu deh.
  • Berat badanku turun 1 kg, dari 64 kg menjadi 63 kg (timbangan bergerak-gerak antara 62,5-63 kg). Lingkar perutku pun kulihat mengecil.
  • Aku semakin sensitif terhadap rasa bumbu tambahan pada makanan. Pertama kali sadar tentang itu waktu aku ditraktir makan pas anniversary orangtuaku. Aku cuma makan roti bakpao tanpa isinya. Setelah kukunyah sampai halus, terasa sekali roti itu manis luar biasa, padahal dulu bakpao itu kurasa tidak terlalu manis (manda-manda istilah orang Jawa). Kali lain aku makan perkedel buatan mama mertua, setelah jadi halus di mulut, wuah … kok asin banget ya! Entah karena sudah mulai terbiasa rasa hambar sayur segar/kukus atau karena efek mengunyah yang lama, tapi itulah yang kurasakan. Oh ya, aku juga makin sensitif terhadap zat asing seperti asap rokok. Dulunya sudah nggak suka, sekarang semakin nggak tahan berdekatan sebentar saja dengan orang yang sedang mengepul-ngepulkan asap rokoknya.
  • Terjadi semacam self-healing pada tubuhku. Dua bulan terakhir, jari tengah tangan kananku diserang semacam eksim (kayaknya) yang membuat kulit ujung jari kering dan sering luka seperti tersobek. Rasanya gatal, pedih, dan nggak enak banget! Sebelum menjalani diet ini, aku biasa mengobatinya dengan sejenis salep kulit. Sembuh sih, tapi sementara saja, sebentar waktu sudah kambuh lagi. Selama seminggu ini, aku sengaja tidak menyalepinya sama sekali. Apa yang terjadi? Ternyata luka itu membaik dengan sendirinya. Bagian kulit yang kering semakin kecil, lukanya menutup, dan ujung kulit menjadi halus serta sensitif kembali (tadinya terasa kebas). Begitu juga luka bekas operasi di kaki kananku yang dulu selalu kering dan mudah tersobek, kini meskipun masih kering tapi sama sekali belum pernah sobek selama aku menjalani diet ini.

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: